Kembali Pada Kenangan Lewat Makanan Tradisional

Dalam invasi restoran kekinian yang rata rata menyajikan junk food, kadang sebagian pegiat dan pemburu kuliner malah ingin kembali pada jajanan yang tradisional, tak cuma mempertimbangkan kesehatan, makanan tradisional seperti menyimpan taste sendiri, bumbu yang langka, racikan yang menggugah selera serta mungkin kenangan kenangan didalamnya.

Kalau teman-teman main ke Yogyakarta, tentu makanan yang paling identik adalah gudeg. Makanan yang satu ini boleh jadi salah satu primadona kuliner di Yogyakarta. Salah satu gudeg yang terkenal di Yogyakarta adalah Gudeg Pawon. Warung gudeg ini mulai buka sekitar jam 10 malam. Dari jam 9 malam kendaraan dan orang-orang sudah antri panjang untuk menikmati hidangan gudeg pawon.

Warung gudeg yang terletak di jalan Veteran Umbulharjo Yogyakarta ini termasuk salah satu warung yang menyajikan jajanan tradisional, tapI tak cuma dari hidangannya, juga pengolahan serta prosesnya menggunakan cara dan alat yang tradisional.

Di Gudeg Pawon, pengunjung yang makan di sini bisa melihat secara langsung dapur si pemilik warung sambil melihat prosees memasak gudeg. Konsep unik seperti ini cukup berhasil menarik konsumen, menjadikan Gudeg Pawon menjadi kian terkenal. Cara memasaknya masih menggunakan kayu bakar. Untuk menanak nasinya pun tidak menggunakan ricecooker, yaitu menggunakan peralatan masak jaman dulu yang biasa disebut dandang.

Maraknya restoran modern dengan konsep foodcourt dan junk food membuat gudeg ini seakan mendobrak bahwa makanan tradisional pun tak kalah peminatnya, bahwa makanan tradisional akan selalu dirindukan oleh orang-orang urban yang mungkin sudah jenuh dengan makanan restoran cepat saji.

Sudah menjadi siklus zaman, atas nama kenangan, suatu saat manusia akan kembali pada ketradisionalan. Manusia modern akan jenuh dengan rutinitas kehidupan modern meski difasilitasi dan sisuguhi hal hal yang serba canggih.

Makan di tempat-tempat traditional semacam ini seakan menjadi nostalgia. Menjadi energi isi ulang bagi jiwa yang gersang yang kering oleh kemarau kota. Ada kebahagian tersendiri setelah makan di tempat semacam ini. Tak heran, tak hanya makanan yang menggunakan konsep tradisional tapi tempat pariwisata yang menawarkan sisi traditional menjadi sangat ramai. Mulai dari penginapan tradisional, rumah dengan dekor tradisional dan segala hal yang berbau tradisional diminati oleh manusia modern.

Peran media dan juga kesadaran sosial bisa menjadikannya peluang pasar untuk membentuk konsep tradisional semacam ini. Potensi yang ada di pedesaan bisa dikembangkan menjadi pemasukan daerah tanpa merubah kelestarian dan tradisionalitas yang dimiliki daerah tersebut

About Redaktur

Seorang penulis yang biasa saja

View all posts by Redaktur →

Leave a Reply